STATISTIKA

A. Ukuran Pemusatan Data

1. Rataan Hitung (Mean)

Rata-rata hitung dihitung dengan cara membagi jumlah nilai data dengan banyaknya data. Rata-rata hitung bisa juga disebut mean.

a) Rataan Hitung dari Data Tunggal

b) Rataan Hitung Untuk Data yang Disajikan Dalam Distribusi Frekuensi

Dengan : fixi = frekuensi untuk nilai xi yang bersesuaian

xi = data ke-i

c) Rataan Hitung Gabungan

2. Modus

a. Data yang belum dikelompokkan

Modus dari data yang belum dikelompokkan adalah ukuran yang memiliki frekuensi tertinggi. Modus dilambangkan mo .

b. Data yang telah dikelompokkan

Modus dari data yang telah dikelompokkan dihitung dengan rumus:

Dengan : Mo = Modus

L = Tepi bawah kelas yang memiliki frekuensi tertinggi (kelas modus) i = Interval kelas

b1 = Frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi kelas interval terdekat sebelumnya

b2 = frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi kelas interval terdekat sesudahnya

 

3. Median (Nilai Tengah)

a) Data yang belum dikelompokkan

Untuk mencari median, data harus dikelompookan terlebih dahulu dari yang terkecil sampai yang terbesar.

b) Data yang Dikelompokkan

Dengan : Qj = Kuartil ke-j

j = 1, 2, 3

i = Interval kelas

Lj = Tepi bawah kelas Qj

fk = Frekuensi kumulatif sebelum kelas Qj

f = Frekuensi kelas Qj

n = Banyak data

 

4. Jangkauan ( J )

Selisih antara nilai data terbesar dengan nilai data terkecil.

5. Simpangan Quartil (Qd)

6. Simpangan baku ( S )

7. Simpangan rata – rata (SR)

8. Ragam (R)

Contoh soal

Tabel 1.1 dibawah ini:

Jawab :

Tetap semangat ya belajarnya… =)

 

sebuah keputusan

dan akhirnya kuputuskan untuk merelakan kamu.
terima kasih untuk semua waktu yang telah kau berikan padaku. waktu yang terlalu singkat tapi tak kan pernah kulupakan.
semoga kebahagian akan selalu menyertaimu, dengan orang-orang yang telah kau pilih untuk menemanimu.
good bye n_n, i will always remember you…

my family

kami adalah satu

Taukah kalian bahwa saya memiliki teman yg lengkap saat ini. Saya punya teman dari beberapa daerah. teman-teman inilah yang selalu menemani saya baik suka maupun duka.

lenkapnya nih :

1. marilan

2. darussamin

3. edo firwansyah

4. murijal

5. antoni nasaminto

6. M.M munir

7. syarif

8. ikhsan abdullah

9. hartanto

10. ramayanti

11. susi aprida

12. dwi angraini

13. fariha

14. feni putri diana

15. nindi yuliati

16. devi histori

17. massayu maria ulfa

18. dwi puji astuti

19. mutmaina

20. nopri angraini

21. irmas

22. anugrah tia

23. diana damaiyanti

24. ema wati

25. pajria

26. mita hafilah

27. abdalia

28. heptina

29. leli astuti

30. khotimah

31. susriani

32. icha

Dipertemukan disebuah perguruan tinggi swasta di palembang bernama UNIV. PGRI Palembang, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Program studi Pendidikan Matematika, Kelas F angkatan 2006. disinilah semua itu bermulai.

32 orang itulah yang selalu membantu, bekerja sama, saling menyemangati satu dengan yang lainnya dalam menyelesaikan kuliah ini.

kemudian seiring berjalannya waktu, beberapa jiwa pergi meninggalkan kelas. dimulai dari ramayanti, dwi anggraini, etc

Banyak hal yg terjadi selama 4 tahun terakhir ini. Tawa canda, persaingan antar kelompok, marah-marahan, semua campur aduk jadi satu. ada yang cinlok (anton ma fariha), dan lain sebaginya…. Banyak perbedaan di antara kami. Tapi, perbedaan-perbedaan inilah yg menjadikan kami berwarna.

i love u all…

 

 

 

Model Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran kooperatif bukanlah hal yang baru dalam dunia pendidikan khususnya pada mata pelajaran matematika. Model pembelajaran kooperatif ini adalah suatu perubahan bentuk pembelajaran yang selama ini monoton  berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa. Menurut Slavin (dalam Isjoni, 2009:15) pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang anggotanya 4-6 orang dengan struktur kelompok yang heterogen. Selanjutnya, Jhonson & Jhonson (dalam Isjoni, 2009: 63) mengemukakan pembelajaran kooperatif adalah mengerjakan sesuatu bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu tim untuk mencapai tujuan bersama.

Dari kedua pendapat di atas, penulis menyimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif adalah suatu bentuk atau model yang mengelompokkan siswa kedalam suatu kelompok yang heterogen terdiri dari 4-6 orang untuk besama-sama mendiskusikan atau menyelesaikan suatu tugas atau bahan pembelajaran yang diberikan untuk mencapai tujuan bersama.

Menurut Ibrahim (dalam Isjoni, 2009: 39) pada dasarnya model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran yang penting, yaitu :

  1. Hasil belajar akademik, pembelajaran kooperatif bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik.
  2. Penerimaan terhadap perbedaan individu, model pembelajaran kooperatif  bertujuan untuk penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda-beda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, ketidakkemampuannya.
  3. Pengembangan keterampilan sosial, model pembelajaran kooperatif bertujuan untuk mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerjasama dan kolaborasi.

Terkait dengan pembelajaran kooperatif, menurut Lestari (2006:10) ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :

  1. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
  2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
  3. Bilamana mungkin, anggota kelompok barasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda.
  4. Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu.

Selain itu, menurut Lestari (2006:10) langkah-langkah pembelajaran kooperatif terdiri dari 6 fase. Diantaranya adalah sebagai berikut :

Fase Tingkah laku guru
Fase-1

Menyampaikan tujuan dan

memotivasi siswa

Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.
Fase-2

Menyajikan informasi

Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
Fase-3

Mengorganisasikan siswa

ke dalam kelompok-kelompok belajar

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan

transisi secara efisien.

Fase-4

Membimbing kelompok

bekerja dan belajar

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
Fase-5

Evaluasi

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mampresentasikan hasil belajarnya.
Fase-6

Memberikan penghargaan

Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu maupun kelompok.

Model Pembelajaran

Menurut Joice dan Weil (dalam Isjoni, 2009: 73) model pembelajaran adalah suatu pola atau rencana yang sudah direncanakan sedemikian rupa dan digunakan untuk menyusun kurikulum, mengatur materi pembelajaran, dan memberi petunjuk kepada pengajar dikelasnya. Sedangkan menurut Soekamto, dkk (dalam Widdiharto, 2004:3) model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan penglaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.

Ismail (dalam Widdiharto, 2003:3) mengemukakan bahwa model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus. Ciri khusus tersebut antara lain sebagai berikut :

  1. Rasional teoritik yang logis yang disusun oleh penciptanya.
  2. Tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.
  3. Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model pembelajaran tersebut berhasil.
  4. Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran tercapai.

Dari pendapat-pandapat dan ciri-ciri khusus model pembelajaran di atas, disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah pola atau bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir pembelajaran yang disajikan secara khas oleh guru  dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

Efektivitas Pembelajaran

Efektivitas berasal dari bahasa inggris yaitu Effective yang berarti berhasil, tepat atau manjur. Efektivitas menunjukan taraf tercapainya suatu tujuan, suatu  usaha dikatakan efektif  jika usaha itu mencapai tujuannya. Secara ideal efektivitas dapat dinyatakan dengan ukuran-ukuran yang agak pasti, misalnya usaha X adalah 60% efektif dalam Mencapai tujuan Y. Didalam Kamus Bahasa Indonesia Efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti mempunyai efektif, pengaruh atau akibat, atau efektif juga dapat diartikan dengan  memberikan hasil yang memuaskan. Dari uraian diatas dapat dijelaskan  kembali bahwa efektivitas merupakan keterkaitan antara tujuan dan hasil yang dinyatakan, dan  menunjukan  derajat  kesesuaian antara tujuan yang dinyatkan dengan hasil yang di capai.

Efektivitas pembelajaran dapat diukur dengan mengadaptasi pengukuran efektivitas pelatihan yaitu melalui evaluasi .Pengukuran efektivitas proses belajar  mengajar dapat diukur melalui nilai evaluasi siswa. Bila hasil belajar siswa berhasil mencapai ketuntasan belajar secara perorangan dengan  skor ≥ 65 % atau 6,5 dan secara klasikal dikelas tersebut telah terdapat ≥ 85 % siswa telah tuntas secara perorangan,maka pembelajaran tersebut dikatakan efektif.(Depdikbud:1994 dalam http://sambasalim. com/pendidikan/konsep-efektifvitas-pembelajaran.html).

cara mudah buat proposal skripsi

kepala pening mikirin proposal skripsi ? makan gak nafsu, badan kurus. itulah mungkin yang dirasakan ketika awal kita memulai penulisan skripsi.

setelah judul dkripsi di ACC, langsung aja buat tu proposal skripsinya yang nantinya bakal diseminarkan.

mau tau draft mudah biar proposalmu gak ancur banget buat diseminarin.

berikut draft nya :

Judul skripsi

1. Latar Belakang :

A. Masalah apa yang terjadi

B. mengapa ini terjadi :

C. apa yang terjadi jika tidak diatasi :

d. Solusi

e. Ketertarikan

2. Pembatasan masalah :

3. Rumusan maslah :

Dalam bentuk pertanyaan

4. Tujuan penelitian

5. Manfaat penelitian

Bagi guru :

bagi sekolah :

6. Tinjauan pustaka / landasan teori

6.1Kajian-kajian terdahulu yang relevan

7. Prosedur penelitian

7.1 Variabel penelitian :

7.2 Definisi operasional variabel

8. Populasi dan Sample

8.1 populasi

8.2 Sample

8.3 Metode penelitian

8.4 Teknik pengumpulan data

8.5 Teknik analisis data

daftar pustaka sementara

Metode Penemuan

Salah satu metode mengajar yang akhir-akhir ini banyak digunakan di sekolah-sekolah yang sudah maju adalah  “metode penemuan”. Menurut suryosubroto (2009:177), hal itu disebabkan karena metode penemuan itu :

1)      Merupakam suatu cara untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif.

2)      Dengan menemukan sendiri , menyelidiki sendiri, maka hasil yang akan diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan, tidak mudah dilupakan anak.

3)      Pengertian yang ditemukan sendiri merupakan pengertian yang betul-betul dikuassai dan mudah digunakan atau ditransfer dalam situasi lain.

4)      Dengan menggunakan strategi penemuan anak belajar menguasai salah satu metode ilmiah yang akan dapat dikembangannya sendiri.

5)      Dengan metode penemuan ini juga, anak belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan problema yang dihadapi sendiri; kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurut Setiuawan(2010:32), di dalam metode penemuan ini, ada dua macam yakni metode penemuan murni dan metode penemuan terbimbing. Pada metode penemuan murni, masalah yang akan ditemukan semata-mata ditentukan siswa. Begitu pula jalannya penemuan. Metode penemuan murni kurang tepat untuk siswa sekolah lanjutan/menengah, karena jika setiap konsep atau prinsip dalam materi dari hasil pengembangan silabus harus dipelajari dengan cara ini, kita kekurangan waktu dan tidak banyak matematika yang dipelajari siswa. Selain itu, pada umumnya siswa terlalu tergesa-gesa menarik kesimpulan dan tidak semua siswa dapat menemukan sendiri.

Mengingat  hal tersebut, muncullah metode mengajar yang dikenal dengan metode penemuan terbimbing sebagai salah satu metode mengajar yang bermanfaat untuk pembelajaran matematika. Menurut Widiharto (2004:5), dengan metode penemuan terbimbing ini, siswa dihadapkan kepada situasi dimana ia bebas menyelidiki dan menarik kesimpulan. Guru bertindak sebagai penunjuk jalan, ia membantu siswa agar mempergunakan ide, konsep, dan keterampilan yang sudah mereka pelajari sebelumnya untuk mendapatkan pengetahuan  yang baru. Pengajuan pertanyaan-pertanyaan yang tepat oleh guru akan merangsang kreativitas siswa dan membantu mereka dalam “menemukan” pengetahuan yang baru tersebut.

Menurut Setiawan (2010:33), urutan langkah-langkah di dalam pembelajaran matematika menggunakan metode penemuan terbimbign ini adalah sebagai berikut :

1)      Guru merumuskan masalah yang akan dihadapkan kepada siswa, dengan data secukupnya. Perumusan harus jelas dalam arti tidak menimbulkan salah tafsir, sehingga arah yang ditempuh siswa tidak salah.

2)      Dari data yang diberikan guru, siswa menyusun, memproses, mengorganisasikan dan menganalisis data tersebut. Dalam hal ini bimbingan guru dapat diberikan sejauh yang diperlukan saja. Bimbingan ini sebaiknya mengarahkan siswa untuk melangkah kearah yang tepat. Misalnya melalui pertanyaan-pertanyaan. Kuranglah tepat bila guru memberi informasi sebanyak-banyaknya.

3)      Siswa menyusun konjektur (prakiraan) dari hasil analisis yang dilakukan.

4)      Bila perlu konjektur di atas diperiksa oleh guru. Ini perlu dilakukan untuk meyakinkan kebenaran prakiraan tersebut.

Bila telah diperileh kepastian kebenaran konjektur tersebut, maka verbalisasi konjektur sebaiknya diserahkan juga kepada siswa untuk menyusunya. Sesudah siswa menemuakn apa yang dicari, hendaknya guru menyediakan soal tambahan untuk memeriksa apakah hasil penemuan itu benar.

Kemampuan Siswa

Kemampuan artinya kesanggupan atau kecakapan (Purwodarminto, 1999). Dalam konteks pembelajaran matematika, aspek kemampuan siswa yang sering menjadi penilaian yaitu kemampuan penalaran, kemampuan pemahaman konsep, dan kemampuan pemecahan masalah

Adapun kemampuan siswa yang dimaksud dalam pembelajaran adalah kesanggupan atau kecakapan siswa dalam mengikuti pemebalajaran yang diukur menggunakan tes berbentuk soal. Misalnya pada sola cerita.

Pada soal cerita, kemampuan siswa dapat diamati dari kesanggupan siswa memahami maksud soal cerita tersebut, mencari cara penyelesaian soal, dan menyelesaikan soal cerita tersebut.

« Entri lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.